Selasa, 28 Agustus 2007

Diingatkan Oleh Kematian

Selama ini saya selalu berpikir saya bisa membuat rencana-rencana untuk besok hari, atau satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bahkan puluhan tahun kedepan. Dan saya kadang bisa mengelastiskan pekerjaan di waktu saya itu sesuai dengan apa yang telah saya rencanakan. Seolah saya pasti menemukan satu hari lagi di esok hari. Dan saya bisa tidur dimalam hari dengan nyenyaknya. Saya terlanjur menganggap kehidupan saya adalah kehidupan yang normal. Menjalankan ritme hidup seperti orang-orang lainnya. Pun begitu sebagai muslim saya juga percaya bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Saya tidak akan hidup selamanya. Rencana-renaca itu bisa batal karenanya. Namun dengan diselangi ibadah rutin yang kadang berlubang-lubang itu, saya tetap mencoba tetap fokus terhadap apa-apa yg telah saya persiapkan. Sampai pada suatu siang saat adzan dhuhur selesai menggema saya diingatkan bahwa rencana-rencana saya bisa berakhir oleh satu misteri kematian yang tanpa pernah kita ketahui. Bahwa kematian itu dekat...sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari mulut saya yang mengalunkan surat Yaasiiin di depan wajah kakak saya yang akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Dan mungkin jauh lebih dekat dari itu, karena kita sama-sama tidak menguasai ilmu takdir...ilmu kematian. Kematian yang selama ini saya anggap hanya milik orang lain, milik orang-orang yg biasa saksikan di tv, saya dengarkan di pengeras suara dari mushola di kompleks tetangga, ternyata bisa menjadi milik kita dengan tiba-tiba tanpa pernah kita sadari. Kematian yang kita saksikan menjadi sebuah tanda pengingat, tanda untuk bersyukur, bersesrah diri, dan memperbaiki diri. Terlebih karena, jujur sampai saat ini, saya merasa tidak punya bekal untuk bertemu kematian. Masih terlalu banyak dosa yang belum terhapus. Masih terlalu sedikit kebaikan yang dibuat dan bahkan mungkin kian berkurang.
Dalam hidup ini saya sudah dua kali diberi kesempatan untuk sadar, bertobat, dan memperbaiki diri oleh sebuah pemandangan dari satu prosesi kematian, perpindahan antara hidup dan mati. Pertama ketika ayah saya menginggal 9 tahun yang lalu, dan kedua meninggalnya kakak saya hari sabtu kemarin. Dan saya tidak perlu menjadi saksi sebuah kematian lagi untuk mengubah hidup saya menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih mendekatkan diri lagi dengan Sang Penguasa Kematian, Allah aza wa zalla. Saya ingin segera bertobat ya Allah. Mudahkanlah jalannya, teguhkanlah hati dan iman saya agar tetap berada di jalurmu ya Allah. Dan berikanlah ampunan, dan kesempurnaan tempat untuk orang orang yang telah mendahului kami. Aamiin!
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”
Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”

Senin, 20 Agustus 2007

Ikut Sayembara

Tepat beberapa jam sebelum masuk tanggal 18 Agustus kemarin, akhirnya saya berhasil ikut serta dalam "Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva-Bukukita.com" yang merupakan ajang lomba cipta karya cerpen yang diselenggarai oleh salah satu penerbit buku di Indonesia. Panitia lomba memang memberikan batas waktu pengiriman naskah sampai tanggal 17 Agustus pukul 24.00 wib. Inysa ALlah karya saya sudah termasuk diantara 1.119 naskah yng nantinya akan diambil 11 terbaik saja yang rencananya akan di bukukan. Saya sendiri baru pertama kali mengikuti sayembara/lomba seperti ini, meskipun keinginan dan niat itu sudah ada sejak lama. Mungkin karena saya selalu merasa kurang yakin akan kemampuan dan kekuatan karya saya sendiri. Akhirnya setelah melihat beberapa karya lama dan membuat satu karya yang baru saya meyakinkan diri untuk mengukuti lomba tersebut. Walaupun saya tidak terlalu berharap karya saya bakal dimuat. Yang penting bagi saya, saya sudah mencoba.
Dalam lomba ini saya mengirimkan tiga naskah ;

1. Anakku Seorang Presiden

Kisah ini bercerita tentang kepanikan seorang ayah yang melihat kelainan pada anaknya yang bercita-cita ingin menjadi presiden. Walapun permasalahnnya sesungguhnya bukan disitu. Cerpen ini saya buat tahun 2003, satu tahun sebelum pemilu 2006. Dibawah ini adalah cuplikan dari cerpen tersebut :
“Kenapa Adi ingin jadi presiden?” tanyaku ketika dia mulai jenuh dengan dongengan saya.
“Abis hebat sih Pah! Presiden kan bisa punya mobil bagus, terbang pake pesawat, punya rumah besar dan kaya….!”
Oh…, untunglah gambaran itu yang ia dapatkan dari sosok seorang presiden.
“…..bisa ngatur-ngatur orang, punya tentara sendiri, bisa buat perang…”
Tidak juga ternyata!!
“….bisa nyerang musuh… dor dor dor!”
Lalu seperti tertarik akan ‘khayalannya’ itu, saya baru berani bertanya, “Emang presiden bisa buat perang ya?”
“Bisa doong! Kan presiden yang paling berkuasa…!”
“Betul.., tapi tugas presiden juga berat karena yang ngasih kekuasan itu kita… rakyatnya. Kalau presidennya nanti ga bias ngatur negara dengan bener, ga bisa ngasih uang dan makanan buat rakyatnya yang miskin, ga bisa sekolahin anak-anak sampai tinggi, ga bisa melindungi rakyatnya yang lemah, nanti malah rakyatnya yang akan marah, karena dia ga bisa ngejalanin amanat mereka. Bukan itu saja Tuhan juga akan marah. Karena Tuhan tidak suka sama orang yang tidak amanah”
“Tuhan akan marah sama presiden?”
“Ya!”
“Apa presiden takut sama Tuhan?”
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena presiden itu cuma manusia dan Tuhanlah yang menciptakan manusia. Tuhan juga yang menciptakan presiden. Tuhan bisa berbuat apa saja pada ciptaannya. Karena Tuhanlah yang paling berkuasa”
Anak itu termenung lama. Entahlah apa cerita saya tadi benar-benar bisa dimengerti olehnya, yang jelas dia seperti menemukan kebenaran baru. Lalu setelah saya bercerita tentang sebuah dongeng, dia kemudian terlelap.


2. Umur Saya Sudah Lewat...

Cerpen ini berkisah tentang seorang lelaki yang masih membawa luka masa kecil karena mengidap phedophilia. Dan ini tidak diambil dari pengalaman pribadi :D. Kisahnya saya buat satu tahun bulan yang lalu.
Berikut cuplikkannya :
“Ibu kira kamu sudah berubah, Mus!” sapa ibu sendu memecah perhatian saya yang tengah asik memandangi anak-anak perempuan yang sedang bermain tali di halaman depan. “Ibu sudah tua, Mus! Dulu Ibu pikir Ibu masih sanggup menjaga kamu sendirian. Tapi kemampuan Ibu terbatas sekarang. Kamu butuh bantuan, Mus!”
Apa maksud ibu.
“Satu hal yang perlu kamu tahu, Ibu masih sayang sama kamu Mus! Apapun keadaan kamu”
Apa sih ini? ibu semakina aneh saja.
“Cuma Ibu juga minta tolong satu hal, tolonglah dirimu sendiri. Lupakan masa lalu!”
Ibu menatap saya hampir menangis. Saya semakin tidak mengerti.
* * * *
Tangan saya ditarik bapak kuat kuat. Ibu menjerit-jerit. Saya menangis keras. Tapi saya masih bisa menangkap tangisan yang menyayat dari seorang gadis kecil yang digendong ibu ke dalam kamar sambil ibu benahi pakaiannya. Kemudian suara tangisan itu menghilang tertimpa teriakan bapak yang mulai memukuli saya.”Kamu apakan adik kamu, hah? Kamu apakan adik kamu?”
Itu cerita waktu umur saya dua belas tahun. Tapi sekarang umur saya sudah lewat tiga puluh tahun…...
……Dan saya menangis.

3. Hantu Marlinah
Ini jenis fiksi yang lebih abdsurd, dan sebenarnya ini jenis cerpen seperti ini yang suka. Hantu Marlinah bercerita tentang pembalan dendam sesosok hantu akibat perbuataan seseorang dimasa hidupnya. Walaupun temanya tentang hantu, namun bukan sesnsai horor yang ingin saya tampilkan. Cerpen ini dibuat beberapa bulan yang lalu dan baru rampung 1 hari menjelang pengiriman. Berikut ini adalah cuplikannya :
“Gin!”, sapa hantu Marlinah setelah habis mengunyah sosis diantara nasi gorengnya. “Mas Kusno masih disini ga?”
“Euh…, mungkin Non tau sendiri!”. Ya ampun!!! Jawaban macam apa itu. Konyol sekali. Entah kenapa bisa keluar kata-kata itu dari mulut Gin, mungkin karena dia berpikir mestinya hantu lebih tau keberadaan orang yang dicarinya. Dia bisa mencari sendiri tanpa hambatan. Ingatlah hantu bisa masuk ke setiap rumah tanpa harus mengetuk pintu.
“Hihihihihihihihihihihihi!” tawa hantu Marlinah kembali menggelagar.”Kamu pikir begitu ya?”
Nah, dia bahkan tahu apa yang dipikirkan Gin.
“Aku akan membunuhnya Gin! Hari ini juga setelah sarapan! Aku cuma ingin memastikan kalau dia ada di sini hari ini. Biar pada saat aku membunuhnya nanti, istri dan keluarganya bisa melihat langsung”

Kamis, 16 Agustus 2007

17

Kami mengucurkan darah di tanah ini
sebagai siraman
atas tulang belulang kami yang terkubur
Kami kekalkan teriakan juang kami
di sudut-sudut cakrawalah
sebagai peneduh rasa bangga
Kami tiupkan jiwa kami
pada janin-janin yang menangis
pada tanah
air
dan udara ini
sebagai saksi kehadiran kami

Dalam perut bumi kami melihatmu
....menangis

16 Agustus 2007

Rabu, 01 Agustus 2007

Oleh-oleh dari Dona

terkadang kita baru memahami apa yg ada di pikiran orang setelah kita akhirnya merasakan seperti yang pernah mereka lalui sebelumnya....

dan sekarang saya baru mengerti.......

1 Agustus 2007

Oleh-Oleh dari Dona II

Di bawah Payung


“Hujan ..cepatlah berhenti”…gumam Troya dalam hati, sambil memegang payung yang menari-nari di sapa angin kencang. Senja itu hujan begitu lebatnya, sesekali melintas di depannya mobil sekaligus memberi percikan air yang membasahi separuh gaun putihnya, yang mungkin sama putihnya dengan rasa rindu yang Troya rasakan.
Hujan semakin deras, tetapi troya tetap saja berdiri disitu. Adakah dia menunggu seseorang yang dicintainya, sebab begitu setia Troya berdiri di bawah cuaca yang tak kenal kata kasihan.
Di depan sebuah etalase meubel antic Troya mematung. Memandangi jatuhnya hujan diatas jalanan yg kian sepi. Garis-garis hujan ini seperti anak2 panah kenyataan yg siap mengujani tubuhnya. Semakin deras hujan ini menghujam bumi semakin nyeri saja rasanya. Oh kenapa aku harus mengalami semua ini….. Kenapa aku harus merasakan cinta lagi…saat dada ini telah terisi oleh cinta dari seseorang yang sangat kusayangi. Apakah aku yang salah? Apakah cinta yang salah?
Satu kilat kecil turun gemuruh.
Mendung sesungguhnya sudah kian lamat menjauh. Tinggal sisa hujan penghabisan di senja ini yang belum menuntaskan ingatannya akan lelaki yang tiba2 hadir di hatinya. Mestinya musim hujan ini sudah berakhir…. Harus berakhir! Rintik tentangnya harus sudah berhenti di sore ini. Ya sore ini. Dia tidak bisa berlama-lama lagi dengan cinta musimannya itu…. Hujan tidak akan bertahan di panasnya kemarau. Begitu juga dengan lelaki itu, dengan cinta itu. Dia tidak akan mampu bertahan disaat nanti Troya akan pergi menghindarinya. Meninggalkan musim ini. Dan Troya yakin hujan ini pasti berhenti! Cinta ini pasti berakhir!
“Tapi apakah aku mampu?” akhhhh… suara siapa ini? Yang jelas tidak ada orang lain disana kecuali dirinya. Apakah itu suara hatinya? Troya sendiri tidak yakin. Satu hal yang ingin dia yakini bahwa apa yang dia rasakan ini salah. Dan dia bertanggung jawab akan hal itu. Makanya dia berharap hujan ini cepat berhenti agar segera usai juga kesalahan yg dia buat…. jika memang itu benar-benar sebuah kesalahan. Karena sore ini Troya akan menemuianya di sebuah tempat. Dia sudah membuat janji dengannya, dan karena hujan tadi dia terpaksa datang terlambat. Ah, semoga saja dia masih menunggu di sana…. Apa yang mesti kukatakan…”Alif… kamu tau hubungan kita ini ga bakal berakhir seperti yang kita inginkan. Kamu tau kondisi aku. Aku tau kondisi kamu. Dan kita sama2 telah dewasa. Kita harus bisa menghadapi ini tanpa harus terlalu terluka, tanpa dendam dan membenci…karena sungguh…. Aku ga bisa memungkiri kalo rasa sayang itu masih ada… Tapi tetap hubungan kita ini mesti berakhir…”
Satu testes air mata jatuh di pipinya. Meski semua itu belum terjadi gemuruh pertentangan di batinnya makin kuat saja.

* * *
Pukul 5 lewat 12 menit hujan semakin reda saja. Jalan-jalan mulai banyak terisi oleh kendaraan yang memantulkan cahaya2 dari lampunya. Beberapa pedagang tampak keluar dari tempat berteduhnya tadi. Hm, inilah saatnya! Lalu dengan perasaan yg dia tegarkan dia langkahkan kakinya menyusuri trotoar menuju tempat pertemuannya nanti. Debar jantungnya makin mengguncang dasyat saat kakinya makin mendekat. Mampukah dia? Mampukah dia menatap matanya nanti saat dia mengatakan itu semua. Dan terutama matanya….. entahlah dari mata itu Troya seperti menemukan dunia tersendiri yang berhasil mengisi setitik lubang di hatinya. Dan sore ini troya akan menghacurkan dunia itu. Dan mungkin juga merusakkan sebagian hatinya.
Di depan pintu masuk café SariRasa langkahnya terhenti. Ditariknya dalam2 nafasnya. Dikumpulkan lagi kekuatannya yg dia coba bangun sejak tadi. Aku bisa! Aku yakin bisa! Tekadnya dalam hati. Kemudian langkah demi langkah dia ayunkan memasuki café itu. Pandangannya menyapu setiap sudutnya berharap menemukan sosok yang dicarinya. Lalu dari sebuah jarak, matanya terhenti di tubuh seorang lelaki berkaos hitam yang tengah duduk disatu kursi. Troya berdiri terpaku disana. Perasaannya berkecamuk. Kacau dan menyesak. Troya hampir tidak percaya pada pandangan matanya sendiri… Ini bukan situasi yg dia bayangkan sebelumnya. Ini bukan sebuah kenyataan yg sanggup dia antisipasi untuk terjadi. Ini sangat menyakitkan! Dan setengah menangis.. cepat saja dia kembali keluar dari café itu…. Meninggalkan niatan hatinya…. Meninggalkan lelaki yang dicarinya… lelaki yang tengah berduaan mesra dengan seorang gadis…. ……………………………

* * *
Hujan di hati Troya sudah berakhir….. Musim cintanya sudah berlalu… lelaki itu telah membuatnya lebih mudah untuk membeci dan melupakannya….
Hujan telah benar-benar berhenti kali ini…

Oleh-Oleh dari Dona I

HUJAN AKHIRNYA BERHENTI


Alif memasuki café SariRasa diantara hujan yang mengurungnya. Demi menjemput satu keputusan dari sesorang yang telah membuat janji untuk bertemu dengannya sore ini.
“Udah ada yang menunggu Mas!”
“Oh ya? Siapa?”
“Disana!”
“Oh….!” Alif mendekati orang itu. Dia seorang gadis berambut sabahu yang baru di kenalnya beberapa hari lalu. Dena namanya.
“Kenapa? kecewa? Karena bukan dia yang datang?” tanyanya ketika aku mendekat.
Alif tersenyum ringan. “Nggak juga…”
“Aku tau kok, Lif… Kamu sendiri yang cerita. Well, kalo memang harus seperti itu ya seperti itu.”
Alif kembali tersenyum.
“Pahit ya?” tanyanya kemudian
“Apanya? Aku belum pesan apa-apa kok?”
“Hahahaa…. Senyumnya. Senyum kamu itu yang pahit!”
Seorang waiter mendekat menaruh pesanan di meja itu.
“Suka cappuccino? Cappuccino dan hujan memang sungguh cocok dinikmati saat ini” tawar Dena sambil mengikat rambutnya. Kemudian dengan matanya yg sedikit terbelalak dia mendekatkan kepalanya ke Alif. “Cheers up Boy! Dunia belum kiamat!”
“Apa sih yang kau tau tentang dunia?”
“Ha ha mau mengujiku?” Dena menyeruput Cappuccino yang tinggal setengah. “So you still love her?”
“Hemmm”
“Hemmm bukan jawaban!”
“Mungkin bukan cinta tepatnya?”
“Apa? Sayang? Suka? Dalam keadaan seperti kamu itu sama saja!”
Alief merogoh kantongnya mengeluarkan bungkus rokok. Dan mulai menyalakannya. “Aku tau perbedaannya..”
“Aku harap kau memang biasa merokok?”
“Kenapa kau selalu sinis??”
“Hahahaha….” Gadis itu terbahak sejadinya. “ini keahlianku!”
Hujan di luar makin menjadi. Jalanan kian sepi saja.
“Kalo kamu masih punya perasaan itu kenapa kamu berniat mengakhirnya?”
“Tidak ada yang harus dipertahankan dari hubungan tanpa harapan ini”
“Oh…. Soal status dia ya? You can fight for it!”
“Ga! Ga bakal! Karena apa yang kita rasakan bukan sebuah cinta yang bakal hidup sesungguhnya”
“Kamu yakin sekali!”
“Yup”
Dena tersenyum.
“Gak percaya?”
“Percaya!” Dena malah melebarkan senyumnya “Jadi karena hubungan yang ga punya harapan ya?”
“Hmm…. Bukan cuma itu sepertinya…! Dia tidak percaya padaku! Dan mungkin juga aku tidak percaya sepenuhnya padanya!”
“Dia pernah berbohong?”
“Bukan seperti itu tepatnya! Begini, satu hari dia bilang sayang hari berikutnya dia menghilang kemudian dia datang lagi dengan kata sayangnya dan dia hilang lagi…! Aku sampai tidak tau…Diri dia yang mana yang bisa aku percaya?”
“Kamu bisa menanyakan padanya nanti!”
“Sudah tidak perlu lagi!”
Satu kilat kecil menghujam bumi. Mendung di luar memang kian menghilang. Hujanpun sepertinya akan segera berhenti.
“Kamu mau bantu aku sesuatu?” Tanya Alief memecah hening.
“Anything but money…”
“Ini jauh lebih mahal dari sekedar uang…”
“Oh, ada ya? Apa tuh?”
“Penghianatan!”
“Hahahaha…. Alief! Alief! Kau mengatakan itu sepertinya ini sebuah perang!”
“Ini memang perang Dena! Perang batin di hatiku. Perang antara sayang dan benci! Dan aku harus memilih diantara keduanya. Kalau dengan cinta aku tidak mampu mengakhiri semua ini maka kebencianlah yang harus bekerja!”
“Alief! Kamu menakutkan!”
“Dia juga bilang begitu!
“So kamu ingin membuat dia membencimu?”
“…..dengan pura-pura”
“Maksudnya?”
“Begini… jika dia datang nanti…. Maukah kamu jadi pacarku?”
“Oops….. hahahahah….jadi itu ya bentuk penghianatannya…”
“….yang pura-pura…”
“Trus kenapa kamu yakin kalo aku bakal nerima ajakan ‘pacaran’ kamu itu?”
“Karena kamu temanku dan ini untuk kebaikan!”
“Membuat orang jadi membenci itu juga kebaikan?”
“Membuat dia tetap berada pada arah cintanya sendiri….. dan membuat aku berada tetap pada kenyataanya sendiri…!”
“Walaupun dia akan terguncang nantinya?”
“Aku harap dia tidak begitu… kalaupun iya hal itu pasti cepat berlalu…”
“Dan buatmu sendiri?”
“Sedih pasti…. Sakit….mungkin!”
“Dan ini tetap mesti dilakukan ya?”
“Ya…! Maukan?”
Pukul 5 lewat 12 hujan mulai berhenti. Jalan-jalan mulai dipenuhi oleh kendaraan yang terjebak hujan deras tadi. Beberapa pedagang terlihat mulai membuka kembali barang2 jualannya. Seorang gadis berrambut panjang dengan gaun putihnya memasuki café itu. Wajahnya tampak muram. Kakinya makin mendekat masuk diikuti pandangan matanya yang seperti hendak mencari sesuatu. Kemudian dari jarak tertentu matanya terhenti pada satu pasangan yang tengah berpegangan mesra. Agak lama ditatapnya lekat-lekat dua sejoli itu! Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menggangunya. kemudian dengan perasaan yang membuncah gadis itu cepat beranjak meninggalkan café.
“Dia sudah pergi?” Tanya Alief sambil melepas tangan Dena.
“Gadis bergaun putih itu?”
“Iya!”
“Iya…. Dia keliatan menangis…”
Alief terdiam. Ada guratan sedih di wajahnya. Sebuah guratan perlawanan antara sedih dan sayang yang masih bercampur. Sungguh benarkah apa yang dia lakukan ini? Kejamkah itu? Apa kah ada kata2 kejam untuk sebuah kebaikan?
“Oh Tuhan… semoga dosa ku terma’afkan!”
“Kamu tidak berdosa apa-apa Dena. Dosa itu sepenuhnya jadi tanggung jawabku”
“Trus apa yang akan kamu lakukan selajutnya?”
“Entahlah…. Saat ini aku hanya ingin pulang… tertidur dan melenyapkan kenyataan pahit ini…..”
“Oke….”
“Thanks banget ya Dena!”
“Ya…. Be strong…. Percayalah kamu pasti akan menemukan yang terbaik”
“Kamu bukan orang pertama yang mengatakan itu! But Thanks anyway!”
Hujan benar-berhenti sore itu. Dan sepertinya ini hujan terakhir di musim ini. Di cerita ini.


5 Mei 2007……..musim hujan telah berlalu