Diingatkan Oleh Kematian
Selama ini saya selalu berpikir saya bisa membuat rencana-rencana untuk besok hari, atau satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bahkan puluhan tahun kedepan. Dan saya kadang bisa mengelastiskan pekerjaan di waktu saya itu sesuai dengan apa yang telah saya rencanakan. Seolah saya pasti menemukan satu hari lagi di esok hari. Dan saya bisa tidur dimalam hari dengan nyenyaknya. Saya terlanjur menganggap kehidupan saya adalah kehidupan yang normal. Menjalankan ritme hidup seperti orang-orang lainnya. Pun begitu sebagai muslim saya juga percaya bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Saya tidak akan hidup selamanya. Rencana-renaca itu bisa batal karenanya. Namun dengan diselangi ibadah rutin yang kadang berlubang-lubang itu, saya tetap mencoba tetap fokus terhadap apa-apa yg telah saya persiapkan. Sampai pada suatu siang saat adzan dhuhur selesai menggema saya diingatkan bahwa rencana-rencana saya bisa berakhir oleh satu misteri kematian yang tanpa pernah kita ketahui. Bahwa kematian itu dekat...sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari mulut saya yang mengalunkan surat Yaasiiin di depan wajah kakak saya yang akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Dan mungkin jauh lebih dekat dari itu, karena kita sama-sama tidak menguasai ilmu takdir...ilmu kematian. Kematian yang selama ini saya anggap hanya milik orang lain, milik orang-orang yg biasa saksikan di tv, saya dengarkan di pengeras suara dari mushola di kompleks tetangga, ternyata bisa menjadi milik kita dengan tiba-tiba tanpa pernah kita sadari. Kematian yang kita saksikan menjadi sebuah tanda pengingat, tanda untuk bersyukur, bersesrah diri, dan memperbaiki diri. Terlebih karena, jujur sampai saat ini, saya merasa tidak punya bekal untuk bertemu kematian. Masih terlalu banyak dosa yang belum terhapus. Masih terlalu sedikit kebaikan yang dibuat dan bahkan mungkin kian berkurang.
Dalam hidup ini saya sudah dua kali diberi kesempatan untuk sadar, bertobat, dan memperbaiki diri oleh sebuah pemandangan dari satu prosesi kematian, perpindahan antara hidup dan mati. Pertama ketika ayah saya menginggal 9 tahun yang lalu, dan kedua meninggalnya kakak saya hari sabtu kemarin. Dan saya tidak perlu menjadi saksi sebuah kematian lagi untuk mengubah hidup saya menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih mendekatkan diri lagi dengan Sang Penguasa Kematian, Allah aza wa zalla. Saya ingin segera bertobat ya Allah. Mudahkanlah jalannya, teguhkanlah hati dan iman saya agar tetap berada di jalurmu ya Allah. Dan berikanlah ampunan, dan kesempurnaan tempat untuk orang orang yang telah mendahului kami. Aamiin!
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”
Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”
