"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa".
(QS. Al Baqarah: 183)
Tinggal beberapa hari lagi kita memasuki satu bulan yang penuh ganjaran dan ampunan. Jika diibaratkan sebuah sekolah,
Ramadhan ini sebuah sekolah yang luar biasa. Tidak ada biaya sepeserpun yang mesti dipungut. Pendaftarannya mudah. Siapa saja boleh jadi peserta didik. Lamanya sekolah juga singkat. Dan yang paling luar biasa adalah title yang dikberikan pada saat kelulusan. TAQWA. Sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh institusi manapun di dunia ini.
Begitu mudah! Begitu menjanjikan!
Dan mudah mudahan di ramadhan tahun ini kita bisa menjalankan sekolah dengan baik dan sempurna, mendapatkan apa2 yang sudah dijanjikan.
Amin.
Dalam kesempatan ini saya juga ingin memohon maaf jika ada kata-kata/ucapan yang tidak berkenan baik disengaja atau tidak.
Dan semoga kita bisa memanfaatkan momen berharga ini dengan sebaik-baiknya.
Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan 1428 H
bagi yang membutuhkan jadwal imsakiah klik disini.
Rabu, 12 September 2007
Sabtu, 01 September 2007
Sekali lagi...
Pelangi manaburkan batin
dalam warna-warna
cinta yang teduh....
mengikat semua nestapa
dan takut akan esok
Aku menjadi bumi yg cerah
ladang bagi satu hati
yang tengah kusemai
berharap hujan dan panas
menjadi sahabat
dan doa menjadi
pilar niat menuju-Mu
ditulis oleh
dhani
jam
17.03
0
komentar
Label: puisi
Selasa, 28 Agustus 2007
Diingatkan Oleh Kematian
Selama ini saya selalu berpikir saya bisa membuat rencana-rencana untuk besok hari, atau satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bahkan puluhan tahun kedepan. Dan saya kadang bisa mengelastiskan pekerjaan di waktu saya itu sesuai dengan apa yang telah saya rencanakan. Seolah saya pasti menemukan satu hari lagi di esok hari. Dan saya bisa tidur dimalam hari dengan nyenyaknya. Saya terlanjur menganggap kehidupan saya adalah kehidupan yang normal. Menjalankan ritme hidup seperti orang-orang lainnya. Pun begitu sebagai muslim saya juga percaya bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Saya tidak akan hidup selamanya. Rencana-renaca itu bisa batal karenanya. Namun dengan diselangi ibadah rutin yang kadang berlubang-lubang itu, saya tetap mencoba tetap fokus terhadap apa-apa yg telah saya persiapkan. Sampai pada suatu siang saat adzan dhuhur selesai menggema saya diingatkan bahwa rencana-rencana saya bisa berakhir oleh satu misteri kematian yang tanpa pernah kita ketahui. Bahwa kematian itu dekat...sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari mulut saya yang mengalunkan surat Yaasiiin di depan wajah kakak saya yang akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Dan mungkin jauh lebih dekat dari itu, karena kita sama-sama tidak menguasai ilmu takdir...ilmu kematian. Kematian yang selama ini saya anggap hanya milik orang lain, milik orang-orang yg biasa saksikan di tv, saya dengarkan di pengeras suara dari mushola di kompleks tetangga, ternyata bisa menjadi milik kita dengan tiba-tiba tanpa pernah kita sadari. Kematian yang kita saksikan menjadi sebuah tanda pengingat, tanda untuk bersyukur, bersesrah diri, dan memperbaiki diri. Terlebih karena, jujur sampai saat ini, saya merasa tidak punya bekal untuk bertemu kematian. Masih terlalu banyak dosa yang belum terhapus. Masih terlalu sedikit kebaikan yang dibuat dan bahkan mungkin kian berkurang.
Dalam hidup ini saya sudah dua kali diberi kesempatan untuk sadar, bertobat, dan memperbaiki diri oleh sebuah pemandangan dari satu prosesi kematian, perpindahan antara hidup dan mati. Pertama ketika ayah saya menginggal 9 tahun yang lalu, dan kedua meninggalnya kakak saya hari sabtu kemarin. Dan saya tidak perlu menjadi saksi sebuah kematian lagi untuk mengubah hidup saya menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih mendekatkan diri lagi dengan Sang Penguasa Kematian, Allah aza wa zalla. Saya ingin segera bertobat ya Allah. Mudahkanlah jalannya, teguhkanlah hati dan iman saya agar tetap berada di jalurmu ya Allah. Dan berikanlah ampunan, dan kesempurnaan tempat untuk orang orang yang telah mendahului kami. Aamiin!
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”
Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”
ditulis oleh
dhani
jam
20.00
0
komentar
Label: renungan
Senin, 20 Agustus 2007
Ikut Sayembara
Tepat beberapa jam sebelum masuk tanggal 18 Agustus kemarin, akhirnya saya berhasil ikut serta dalam "Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva-Bukukita.com" yang merupakan ajang lomba cipta karya cerpen yang diselenggarai oleh salah satu penerbit buku di Indonesia. Panitia lomba memang memberikan batas waktu pengiriman naskah sampai tanggal 17 Agustus pukul 24.00 wib. Inysa ALlah karya saya sudah termasuk diantara 1.119 naskah yng nantinya akan diambil 11 terbaik saja yang rencananya akan di bukukan. Saya sendiri baru pertama kali mengikuti sayembara/lomba seperti ini, meskipun keinginan dan niat itu sudah ada sejak lama. Mungkin karena saya selalu merasa kurang yakin akan kemampuan dan kekuatan karya saya sendiri. Akhirnya setelah melihat beberapa karya lama dan membuat satu karya yang baru saya meyakinkan diri untuk mengukuti lomba tersebut. Walaupun saya tidak terlalu berharap karya saya bakal dimuat. Yang penting bagi saya, saya sudah mencoba.
Dalam lomba ini saya mengirimkan tiga naskah ;
1. Anakku Seorang Presiden
Kisah ini bercerita tentang kepanikan seorang ayah yang melihat kelainan pada anaknya yang bercita-cita ingin menjadi presiden. Walapun permasalahnnya sesungguhnya bukan disitu. Cerpen ini saya buat tahun 2003, satu tahun sebelum pemilu 2006. Dibawah ini adalah cuplikan dari cerpen tersebut :
“Kenapa Adi ingin jadi presiden?” tanyaku ketika dia mulai jenuh dengan dongengan saya.
“Abis hebat sih Pah! Presiden kan bisa punya mobil bagus, terbang pake pesawat, punya rumah besar dan kaya….!”
Oh…, untunglah gambaran itu yang ia dapatkan dari sosok seorang presiden.
“…..bisa ngatur-ngatur orang, punya tentara sendiri, bisa buat perang…”
Tidak juga ternyata!!
“….bisa nyerang musuh… dor dor dor!”
Lalu seperti tertarik akan ‘khayalannya’ itu, saya baru berani bertanya, “Emang presiden bisa buat perang ya?”
“Bisa doong! Kan presiden yang paling berkuasa…!”
“Betul.., tapi tugas presiden juga berat karena yang ngasih kekuasan itu kita… rakyatnya. Kalau presidennya nanti ga bias ngatur negara dengan bener, ga bisa ngasih uang dan makanan buat rakyatnya yang miskin, ga bisa sekolahin anak-anak sampai tinggi, ga bisa melindungi rakyatnya yang lemah, nanti malah rakyatnya yang akan marah, karena dia ga bisa ngejalanin amanat mereka. Bukan itu saja Tuhan juga akan marah. Karena Tuhan tidak suka sama orang yang tidak amanah”
“Tuhan akan marah sama presiden?”
“Ya!”
“Apa presiden takut sama Tuhan?”
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena presiden itu cuma manusia dan Tuhanlah yang menciptakan manusia. Tuhan juga yang menciptakan presiden. Tuhan bisa berbuat apa saja pada ciptaannya. Karena Tuhanlah yang paling berkuasa”
Anak itu termenung lama. Entahlah apa cerita saya tadi benar-benar bisa dimengerti olehnya, yang jelas dia seperti menemukan kebenaran baru. Lalu setelah saya bercerita tentang sebuah dongeng, dia kemudian terlelap.
2. Umur Saya Sudah Lewat...
Cerpen ini berkisah tentang seorang lelaki yang masih membawa luka masa kecil karena mengidap phedophilia. Dan ini tidak diambil dari pengalaman pribadi :D. Kisahnya saya buat satu tahun bulan yang lalu.
Berikut cuplikkannya :
“Ibu kira kamu sudah berubah, Mus!” sapa ibu sendu memecah perhatian saya yang tengah asik memandangi anak-anak perempuan yang sedang bermain tali di halaman depan. “Ibu sudah tua, Mus! Dulu Ibu pikir Ibu masih sanggup menjaga kamu sendirian. Tapi kemampuan Ibu terbatas sekarang. Kamu butuh bantuan, Mus!”
Apa maksud ibu.
“Satu hal yang perlu kamu tahu, Ibu masih sayang sama kamu Mus! Apapun keadaan kamu”
Apa sih ini? ibu semakina aneh saja.
“Cuma Ibu juga minta tolong satu hal, tolonglah dirimu sendiri. Lupakan masa lalu!”
Ibu menatap saya hampir menangis. Saya semakin tidak mengerti.
* * * *
Tangan saya ditarik bapak kuat kuat. Ibu menjerit-jerit. Saya menangis keras. Tapi saya masih bisa menangkap tangisan yang menyayat dari seorang gadis kecil yang digendong ibu ke dalam kamar sambil ibu benahi pakaiannya. Kemudian suara tangisan itu menghilang tertimpa teriakan bapak yang mulai memukuli saya.”Kamu apakan adik kamu, hah? Kamu apakan adik kamu?”
Itu cerita waktu umur saya dua belas tahun. Tapi sekarang umur saya sudah lewat tiga puluh tahun…...
……Dan saya menangis.
3. Hantu Marlinah
Ini jenis fiksi yang lebih abdsurd, dan sebenarnya ini jenis cerpen seperti ini yang suka. Hantu Marlinah bercerita tentang pembalan dendam sesosok hantu akibat perbuataan seseorang dimasa hidupnya. Walaupun temanya tentang hantu, namun bukan sesnsai horor yang ingin saya tampilkan. Cerpen ini dibuat beberapa bulan yang lalu dan baru rampung 1 hari menjelang pengiriman. Berikut ini adalah cuplikannya :
“Gin!”, sapa hantu Marlinah setelah habis mengunyah sosis diantara nasi gorengnya. “Mas Kusno masih disini ga?”
“Euh…, mungkin Non tau sendiri!”. Ya ampun!!! Jawaban macam apa itu. Konyol sekali. Entah kenapa bisa keluar kata-kata itu dari mulut Gin, mungkin karena dia berpikir mestinya hantu lebih tau keberadaan orang yang dicarinya. Dia bisa mencari sendiri tanpa hambatan. Ingatlah hantu bisa masuk ke setiap rumah tanpa harus mengetuk pintu.
“Hihihihihihihihihihihihi!” tawa hantu Marlinah kembali menggelagar.”Kamu pikir begitu ya?”
Nah, dia bahkan tahu apa yang dipikirkan Gin.
“Aku akan membunuhnya Gin! Hari ini juga setelah sarapan! Aku cuma ingin memastikan kalau dia ada di sini hari ini. Biar pada saat aku membunuhnya nanti, istri dan keluarganya bisa melihat langsung”
ditulis oleh
dhani
jam
22.12
3
komentar
Kamis, 16 Agustus 2007
17
Kami mengucurkan darah di tanah ini
sebagai siraman
atas tulang belulang kami yang terkubur
Kami kekalkan teriakan juang kami
di sudut-sudut cakrawalah
sebagai peneduh rasa bangga
Kami tiupkan jiwa kami
pada janin-janin yang menangis
pada tanah
air
dan udara ini
sebagai saksi kehadiran kami
Dalam perut bumi kami melihatmu
....menangis
16 Agustus 2007
ditulis oleh
dhani
jam
19.12
3
komentar
Label: puisi
Rabu, 01 Agustus 2007
Oleh-oleh dari Dona
terkadang kita baru memahami apa yg ada di pikiran orang setelah kita akhirnya merasakan seperti yang pernah mereka lalui sebelumnya....
dan sekarang saya baru mengerti.......
1 Agustus 2007
ditulis oleh
dhani
jam
21.24
5
komentar
Oleh-Oleh dari Dona II
Di bawah Payung
“Hujan ..cepatlah berhenti”…gumam Troya dalam hati, sambil memegang payung yang menari-nari di sapa angin kencang. Senja itu hujan begitu lebatnya, sesekali melintas di depannya mobil sekaligus memberi percikan air yang membasahi separuh gaun putihnya, yang mungkin sama putihnya dengan rasa rindu yang Troya rasakan.
Hujan semakin deras, tetapi troya tetap saja berdiri disitu. Adakah dia menunggu seseorang yang dicintainya, sebab begitu setia Troya berdiri di bawah cuaca yang tak kenal kata kasihan.
Di depan sebuah etalase meubel antic Troya mematung. Memandangi jatuhnya hujan diatas jalanan yg kian sepi. Garis-garis hujan ini seperti anak2 panah kenyataan yg siap mengujani tubuhnya. Semakin deras hujan ini menghujam bumi semakin nyeri saja rasanya. Oh kenapa aku harus mengalami semua ini….. Kenapa aku harus merasakan cinta lagi…saat dada ini telah terisi oleh cinta dari seseorang yang sangat kusayangi. Apakah aku yang salah? Apakah cinta yang salah?
Satu kilat kecil turun gemuruh.
Mendung sesungguhnya sudah kian lamat menjauh. Tinggal sisa hujan penghabisan di senja ini yang belum menuntaskan ingatannya akan lelaki yang tiba2 hadir di hatinya. Mestinya musim hujan ini sudah berakhir…. Harus berakhir! Rintik tentangnya harus sudah berhenti di sore ini. Ya sore ini. Dia tidak bisa berlama-lama lagi dengan cinta musimannya itu…. Hujan tidak akan bertahan di panasnya kemarau. Begitu juga dengan lelaki itu, dengan cinta itu. Dia tidak akan mampu bertahan disaat nanti Troya akan pergi menghindarinya. Meninggalkan musim ini. Dan Troya yakin hujan ini pasti berhenti! Cinta ini pasti berakhir!
“Tapi apakah aku mampu?” akhhhh… suara siapa ini? Yang jelas tidak ada orang lain disana kecuali dirinya. Apakah itu suara hatinya? Troya sendiri tidak yakin. Satu hal yang ingin dia yakini bahwa apa yang dia rasakan ini salah. Dan dia bertanggung jawab akan hal itu. Makanya dia berharap hujan ini cepat berhenti agar segera usai juga kesalahan yg dia buat…. jika memang itu benar-benar sebuah kesalahan. Karena sore ini Troya akan menemuianya di sebuah tempat. Dia sudah membuat janji dengannya, dan karena hujan tadi dia terpaksa datang terlambat. Ah, semoga saja dia masih menunggu di sana…. Apa yang mesti kukatakan…”Alif… kamu tau hubungan kita ini ga bakal berakhir seperti yang kita inginkan. Kamu tau kondisi aku. Aku tau kondisi kamu. Dan kita sama2 telah dewasa. Kita harus bisa menghadapi ini tanpa harus terlalu terluka, tanpa dendam dan membenci…karena sungguh…. Aku ga bisa memungkiri kalo rasa sayang itu masih ada… Tapi tetap hubungan kita ini mesti berakhir…”
Satu testes air mata jatuh di pipinya. Meski semua itu belum terjadi gemuruh pertentangan di batinnya makin kuat saja.
* * *
Pukul 5 lewat 12 menit hujan semakin reda saja. Jalan-jalan mulai banyak terisi oleh kendaraan yang memantulkan cahaya2 dari lampunya. Beberapa pedagang tampak keluar dari tempat berteduhnya tadi. Hm, inilah saatnya! Lalu dengan perasaan yg dia tegarkan dia langkahkan kakinya menyusuri trotoar menuju tempat pertemuannya nanti. Debar jantungnya makin mengguncang dasyat saat kakinya makin mendekat. Mampukah dia? Mampukah dia menatap matanya nanti saat dia mengatakan itu semua. Dan terutama matanya….. entahlah dari mata itu Troya seperti menemukan dunia tersendiri yang berhasil mengisi setitik lubang di hatinya. Dan sore ini troya akan menghacurkan dunia itu. Dan mungkin juga merusakkan sebagian hatinya.
Di depan pintu masuk café SariRasa langkahnya terhenti. Ditariknya dalam2 nafasnya. Dikumpulkan lagi kekuatannya yg dia coba bangun sejak tadi. Aku bisa! Aku yakin bisa! Tekadnya dalam hati. Kemudian langkah demi langkah dia ayunkan memasuki café itu. Pandangannya menyapu setiap sudutnya berharap menemukan sosok yang dicarinya. Lalu dari sebuah jarak, matanya terhenti di tubuh seorang lelaki berkaos hitam yang tengah duduk disatu kursi. Troya berdiri terpaku disana. Perasaannya berkecamuk. Kacau dan menyesak. Troya hampir tidak percaya pada pandangan matanya sendiri… Ini bukan situasi yg dia bayangkan sebelumnya. Ini bukan sebuah kenyataan yg sanggup dia antisipasi untuk terjadi. Ini sangat menyakitkan! Dan setengah menangis.. cepat saja dia kembali keluar dari café itu…. Meninggalkan niatan hatinya…. Meninggalkan lelaki yang dicarinya… lelaki yang tengah berduaan mesra dengan seorang gadis…. ……………………………
* * *
Hujan di hati Troya sudah berakhir….. Musim cintanya sudah berlalu… lelaki itu telah membuatnya lebih mudah untuk membeci dan melupakannya….
Hujan telah benar-benar berhenti kali ini…
ditulis oleh
dhani
jam
21.23
1 komentar
Label: cerpen
Oleh-Oleh dari Dona I
HUJAN AKHIRNYA BERHENTI
Alif memasuki café SariRasa diantara hujan yang mengurungnya. Demi menjemput satu keputusan dari sesorang yang telah membuat janji untuk bertemu dengannya sore ini.
“Udah ada yang menunggu Mas!”
“Oh ya? Siapa?”
“Disana!”
“Oh….!” Alif mendekati orang itu. Dia seorang gadis berambut sabahu yang baru di kenalnya beberapa hari lalu. Dena namanya.
“Kenapa? kecewa? Karena bukan dia yang datang?” tanyanya ketika aku mendekat.
Alif tersenyum ringan. “Nggak juga…”
“Aku tau kok, Lif… Kamu sendiri yang cerita. Well, kalo memang harus seperti itu ya seperti itu.”
Alif kembali tersenyum.
“Pahit ya?” tanyanya kemudian
“Apanya? Aku belum pesan apa-apa kok?”
“Hahahaa…. Senyumnya. Senyum kamu itu yang pahit!”
Seorang waiter mendekat menaruh pesanan di meja itu.
“Suka cappuccino? Cappuccino dan hujan memang sungguh cocok dinikmati saat ini” tawar Dena sambil mengikat rambutnya. Kemudian dengan matanya yg sedikit terbelalak dia mendekatkan kepalanya ke Alif. “Cheers up Boy! Dunia belum kiamat!”
“Apa sih yang kau tau tentang dunia?”
“Ha ha mau mengujiku?” Dena menyeruput Cappuccino yang tinggal setengah. “So you still love her?”
“Hemmm”
“Hemmm bukan jawaban!”
“Mungkin bukan cinta tepatnya?”
“Apa? Sayang? Suka? Dalam keadaan seperti kamu itu sama saja!”
Alief merogoh kantongnya mengeluarkan bungkus rokok. Dan mulai menyalakannya. “Aku tau perbedaannya..”
“Aku harap kau memang biasa merokok?”
“Kenapa kau selalu sinis??”
“Hahahaha….” Gadis itu terbahak sejadinya. “ini keahlianku!”
Hujan di luar makin menjadi. Jalanan kian sepi saja.
“Kalo kamu masih punya perasaan itu kenapa kamu berniat mengakhirnya?”
“Tidak ada yang harus dipertahankan dari hubungan tanpa harapan ini”
“Oh…. Soal status dia ya? You can fight for it!”
“Ga! Ga bakal! Karena apa yang kita rasakan bukan sebuah cinta yang bakal hidup sesungguhnya”
“Kamu yakin sekali!”
“Yup”
Dena tersenyum.
“Gak percaya?”
“Percaya!” Dena malah melebarkan senyumnya “Jadi karena hubungan yang ga punya harapan ya?”
“Hmm…. Bukan cuma itu sepertinya…! Dia tidak percaya padaku! Dan mungkin juga aku tidak percaya sepenuhnya padanya!”
“Dia pernah berbohong?”
“Bukan seperti itu tepatnya! Begini, satu hari dia bilang sayang hari berikutnya dia menghilang kemudian dia datang lagi dengan kata sayangnya dan dia hilang lagi…! Aku sampai tidak tau…Diri dia yang mana yang bisa aku percaya?”
“Kamu bisa menanyakan padanya nanti!”
“Sudah tidak perlu lagi!”
Satu kilat kecil menghujam bumi. Mendung di luar memang kian menghilang. Hujanpun sepertinya akan segera berhenti.
“Kamu mau bantu aku sesuatu?” Tanya Alief memecah hening.
“Anything but money…”
“Ini jauh lebih mahal dari sekedar uang…”
“Oh, ada ya? Apa tuh?”
“Penghianatan!”
“Hahahaha…. Alief! Alief! Kau mengatakan itu sepertinya ini sebuah perang!”
“Ini memang perang Dena! Perang batin di hatiku. Perang antara sayang dan benci! Dan aku harus memilih diantara keduanya. Kalau dengan cinta aku tidak mampu mengakhiri semua ini maka kebencianlah yang harus bekerja!”
“Alief! Kamu menakutkan!”
“Dia juga bilang begitu!
“So kamu ingin membuat dia membencimu?”
“…..dengan pura-pura”
“Maksudnya?”
“Begini… jika dia datang nanti…. Maukah kamu jadi pacarku?”
“Oops….. hahahahah….jadi itu ya bentuk penghianatannya…”
“….yang pura-pura…”
“Trus kenapa kamu yakin kalo aku bakal nerima ajakan ‘pacaran’ kamu itu?”
“Karena kamu temanku dan ini untuk kebaikan!”
“Membuat orang jadi membenci itu juga kebaikan?”
“Membuat dia tetap berada pada arah cintanya sendiri….. dan membuat aku berada tetap pada kenyataanya sendiri…!”
“Walaupun dia akan terguncang nantinya?”
“Aku harap dia tidak begitu… kalaupun iya hal itu pasti cepat berlalu…”
“Dan buatmu sendiri?”
“Sedih pasti…. Sakit….mungkin!”
“Dan ini tetap mesti dilakukan ya?”
“Ya…! Maukan?”
Pukul 5 lewat 12 hujan mulai berhenti. Jalan-jalan mulai dipenuhi oleh kendaraan yang terjebak hujan deras tadi. Beberapa pedagang terlihat mulai membuka kembali barang2 jualannya. Seorang gadis berrambut panjang dengan gaun putihnya memasuki café itu. Wajahnya tampak muram. Kakinya makin mendekat masuk diikuti pandangan matanya yang seperti hendak mencari sesuatu. Kemudian dari jarak tertentu matanya terhenti pada satu pasangan yang tengah berpegangan mesra. Agak lama ditatapnya lekat-lekat dua sejoli itu! Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menggangunya. kemudian dengan perasaan yang membuncah gadis itu cepat beranjak meninggalkan café.
“Dia sudah pergi?” Tanya Alief sambil melepas tangan Dena.
“Gadis bergaun putih itu?”
“Iya!”
“Iya…. Dia keliatan menangis…”
Alief terdiam. Ada guratan sedih di wajahnya. Sebuah guratan perlawanan antara sedih dan sayang yang masih bercampur. Sungguh benarkah apa yang dia lakukan ini? Kejamkah itu? Apa kah ada kata2 kejam untuk sebuah kebaikan?
“Oh Tuhan… semoga dosa ku terma’afkan!”
“Kamu tidak berdosa apa-apa Dena. Dosa itu sepenuhnya jadi tanggung jawabku”
“Trus apa yang akan kamu lakukan selajutnya?”
“Entahlah…. Saat ini aku hanya ingin pulang… tertidur dan melenyapkan kenyataan pahit ini…..”
“Oke….”
“Thanks banget ya Dena!”
“Ya…. Be strong…. Percayalah kamu pasti akan menemukan yang terbaik”
“Kamu bukan orang pertama yang mengatakan itu! But Thanks anyway!”
Hujan benar-berhenti sore itu. Dan sepertinya ini hujan terakhir di musim ini. Di cerita ini.
5 Mei 2007……..musim hujan telah berlalu
ditulis oleh
dhani
jam
21.19
1 komentar
Label: cerpen
Kamis, 05 Juli 2007
Nyanyian Hujan
Di musim ini
hujan bersenandung dengan
nadanya tersendiri
yang merintik
dalam iringan biru hati
dan menderas
dalam nyanyian nafas cinta
Dan Aku telah memberimu lagu
menyesuaikan bait-baitnya
dengan kesempurnaan dirimu
menyamakannya dengan
dentingan hujan yang masih kulihat
agar cinta dapat mendengar gempita
diantara basah rintik-rintiknya
bernyanyilah
aku ingin tertidur
menemukan mimpi
di tiap-tiap langitmu
yang menghangatkan
tanah basah esok hari
cirebon, Juli 2007
ditulis oleh
dhani
jam
22.23
2
komentar
Label: puisi
Rabu, 27 Juni 2007
Ini Budi..............
ini budi
yang tengah mengeja
i n i b u d i
dengan semangat yang tergagap
ini budi
yang telah menyelesaikan berucap
i n i i b u b u d i
dengan beban yang kelu
oleh air mata
ini budi
yang berharap menuntaskan kata
i n i s e k o l a h b u d i
dan keringat di masa lalu
terobati dengan jiwa yang telah penuh cita-cita
ini budi
yang berpikir mampu menjelaskan huruf-huruf
i n i n e g a r a b u d i
dengan kebangggan dan semangat membumi
meratakan tangis dan tawa di setiap tanah-tanahnya
ini budi
yang lupa mengingat abjad
i n i b a n g s a b u d i
Cirebon, 28 Juni 2007
ditulis oleh
dhani
jam
22.42
6
komentar
Label: puisi
Sabtu, 23 Juni 2007
(puisi) Mengarak Rembulan
Mari kita mengarak bulan!
Mengembalikannya pada gelap
menggantungkannya diantara masa-masa yang terlewat
Hingga kembalilah sempurna.
Utuh seperti senyummu yang biasa kulihat.
Jangan lepaskan genggaman kita dari hangat sinarnya.
Karena jiwa kita telah melebur di terangnya.
Membagi bayangan di tubuh-tubuh yang dingin oleh cinta
beku oleh kesendirian.
Dan genaplah kecerian mereka.
Indah seperti wajahmu yang memerah.
Ingatlah sebenarnya ini hanya sebuah permainan
Berlari dan berputar
Yang menciptakan purnama dan sabit
Untuk keindahanmu di cahayanya
Dan keteduhanku di rindunya
Begitulah seharusnya kita.
Menjadi alam dan rasa secara bersamaan
Menjadi cinta dan keindahan secara wajar
Menjadi aku dan kamu
Mari kita pandangi rembulan.
Menghitung jarak antara kau dan ketiadaan
Cirebon, 18 juni 2007
ditulis oleh
dhani
jam
21.07
1 komentar
Label: puisi
Menikahlah (denganku)
Ini beberapa hadits tentang sebaiknya/seharusnya seorang lelaki segera menikah. Sebagian sudah saya dengar lengkap dengan penjelasan dan diskusi yang malu-malu. Dan sekarang nyanyian tentang hadits-hadits makin berteriak kencang ditelinga saya.
Ya Allah kau maha pemberi, penggenggam segala takdir. Tunjukanlah apa yang terbaik bagi saya, rizki, jodoh dan keluarga yang mampu membimbing pada kebaikan dan arah iman yang sempurna. Aamiin.
1. “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
2. “Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani)
3. “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)
4. “Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)
5. “Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)
6. “Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
ditulis oleh
dhani
jam
15.05
8
komentar
Jumat, 22 Juni 2007
Shakespeare In Blog
What's in a name.... itu ucapan yang sering orang lontarkan ketika ingin mengatakan 'apalah artinya sebuah nama'
Tapi dari mulut Shakespear akan terdengar seperti 'ada sesuatu dibalik nama'. Saya tidak tahu siapa yang lebih tepat diterjemahkan dalam pola pikir
kita. Bingung, kan? Saya samabingungnya dengan anda ketika sadar bahwa
saya memiliki bermacam panggilan. Tanpa ada tendensi tertentu, saya biasa dipanggil dengan nama Asep, Nur, Rom, Dhani.... saya sampai tidak tahu mana panggilan saya yang paling tepat.
Nama saya sendiri sesuai pemberian ayah dan akte kelahiran saya adalah 'Nur Ramdhani Safrudin'. Nah kecuali 'Asep', anda sudah mulai bisa menebak-nebak dari mana datangnya nama-nama panggilan tersebut. Nama itu sebenarnya bukan nama yg langsung diberikan ayah ketika saya lahir, karena pada saat itu ayah tengah sakit parah..., menurut cerita ibu justru kakek sayalah yang memberikan nama pertama kali dengan nama 'Nur Ramdhani Sobarudin'... kemudian beberapa minggu setelah ayah sembuh 'Sobarudin' pun digusur dengan nama 'Safrudin', yang kemudian dipatenkan dalam akte setahun kemudian. Dan ketika orang lain bertanya apa sih arti dari nama saya itu. Dengan mengernyitkan sedikit dahi saya akan mengatakan 'mmm ....cahaya bulan ramadhan.... kali ya?...atau eeeeuh...'
Kemudian saya teringat dengan pada ucapan Shakespear itu...'apalah artinya sebuah nama?' saya selanjutnya akan merasa tentram, coz nama saya memang fine fine aja...' walaupun itu agak bertentangan dengan satu dasar pengetahun yang diungkapkan Ferdinand de Sausure bapak linguistik dunia. Katanya makna itu diwakili oleh satu atau lebih nama...artinya nama saya harus bermakna sesuatu... dan mungkin 'cahaya bulan ramadhan' itu maknanya dan kalau saya bisa memliki banyak nama maka saya bisa berganti nama menjadi Ray of Ramadhan atau Rayon de Ramadhan atau Straal van Ramadhan.... welehhhh! tambah pusing!....
Terus dari mana datangnya panggilan 'Asep' itu... saya berasumsi itu kata yang terpotong dari satu kata yang komplit yaitu 'Kasep' yang dalam bahasa Indonesia berarti 'tampan'.... he he... dan saya tidak meragukan itu... Nama itu biasa saya dengar di lingkungan keluarga saya..., tetangga..., kerabat dekat, dan teman-teman SD saya.
Masuk SMP nyaris tidak ada lagi yang memanggil dengan nama itu... kerena teman-teman saya akan memanggil saya dengan nama 'Nur' atau 'Rom'. Sesuatu yang sangat asing bahkan ditelinga saya..., dan saya sendiri sepertinya pasrah dengan nama 'entah berantah itu' sampai selesai SMA.
Saat masuk kuliah saya mulai memberanikan diri untuk memaksa orang-orang memanggil saya dengan panggilan yang saya kehendaki. Dan muncullah nama 'Dhani', saya sama sekali tidak mendompleng nama besar Ahmad Dhani atau Dhani-dhani yang lain yang sudah cukup tenar pada saat itu. Dan dimulailah hidup baru saya dengan nama Dhani. Satu tonggak bahwa saya mulai bisa mewujudkan keinginan saya sendiri...
Jadi What's in a name? Pasti ada sesuatu di dalamnya
ditulis oleh
dhani
jam
16.22
Kamis, 21 Juni 2007
Rumah
Anda pernah melihat iklan bahan bangunan di televisi kita tentang sebuah rumah yang menjadi saksi keberhasilan sebuah keluarga sampai beralih generasi? Betapa bahagianya keluarga itu, seakan kesempurnaan hidup telah benar-benar diraih. Dan sebuah bangunan rumah disimbolkan sebagai hal yang penting dalam proses itu. Semuanya berawal dari rumah dan kembali ke rumah.
Apakah anda sudah memiliki rumah seperti itu?
Menjadi tempat kebahagian bermula dan berakhir. Mengisi kedalaman makna kata 'pulang' ketika kita telah jauh melangkah, telah lama bergelut dalam panas dan hujan, telah lelah berharap, mencari dan berharap. Jauh lebih berarti dari sekedar sebuah tempat pelindung, beristirahat dan bercengkrama sesama. Jauh lebih bermakna dari sebuah bangunan fisik yang anggun dan kokoh.
Rumah bagi saya tidak harus berbentuk bangunan. Bahkan tidak perlu nyata. Rumah bisa saya ditemukan di kenangan, di kebebasan berpikir, di wajah-wajah yang tulus, atau di dalam hati seseorang.
Dan meski sudah sangat rindu ingin pulang...... saya belum juga menemukan itu
ditulis oleh
dhani
jam
19.12
Rabu, 20 Juni 2007
Mari Berteduh
.....Jika hujan menjadi terlalu deras
matahari menjadi terlalu panas..........
........langkah menjadi terlau berat
dan hati menjadi terlalu gulana..........
...............berteduhlah............
ditulis oleh
dhani
jam
18.55
0
komentar
