Rabu, 01 Agustus 2007

Oleh-Oleh dari Dona I

HUJAN AKHIRNYA BERHENTI


Alif memasuki café SariRasa diantara hujan yang mengurungnya. Demi menjemput satu keputusan dari sesorang yang telah membuat janji untuk bertemu dengannya sore ini.
“Udah ada yang menunggu Mas!”
“Oh ya? Siapa?”
“Disana!”
“Oh….!” Alif mendekati orang itu. Dia seorang gadis berambut sabahu yang baru di kenalnya beberapa hari lalu. Dena namanya.
“Kenapa? kecewa? Karena bukan dia yang datang?” tanyanya ketika aku mendekat.
Alif tersenyum ringan. “Nggak juga…”
“Aku tau kok, Lif… Kamu sendiri yang cerita. Well, kalo memang harus seperti itu ya seperti itu.”
Alif kembali tersenyum.
“Pahit ya?” tanyanya kemudian
“Apanya? Aku belum pesan apa-apa kok?”
“Hahahaa…. Senyumnya. Senyum kamu itu yang pahit!”
Seorang waiter mendekat menaruh pesanan di meja itu.
“Suka cappuccino? Cappuccino dan hujan memang sungguh cocok dinikmati saat ini” tawar Dena sambil mengikat rambutnya. Kemudian dengan matanya yg sedikit terbelalak dia mendekatkan kepalanya ke Alif. “Cheers up Boy! Dunia belum kiamat!”
“Apa sih yang kau tau tentang dunia?”
“Ha ha mau mengujiku?” Dena menyeruput Cappuccino yang tinggal setengah. “So you still love her?”
“Hemmm”
“Hemmm bukan jawaban!”
“Mungkin bukan cinta tepatnya?”
“Apa? Sayang? Suka? Dalam keadaan seperti kamu itu sama saja!”
Alief merogoh kantongnya mengeluarkan bungkus rokok. Dan mulai menyalakannya. “Aku tau perbedaannya..”
“Aku harap kau memang biasa merokok?”
“Kenapa kau selalu sinis??”
“Hahahaha….” Gadis itu terbahak sejadinya. “ini keahlianku!”
Hujan di luar makin menjadi. Jalanan kian sepi saja.
“Kalo kamu masih punya perasaan itu kenapa kamu berniat mengakhirnya?”
“Tidak ada yang harus dipertahankan dari hubungan tanpa harapan ini”
“Oh…. Soal status dia ya? You can fight for it!”
“Ga! Ga bakal! Karena apa yang kita rasakan bukan sebuah cinta yang bakal hidup sesungguhnya”
“Kamu yakin sekali!”
“Yup”
Dena tersenyum.
“Gak percaya?”
“Percaya!” Dena malah melebarkan senyumnya “Jadi karena hubungan yang ga punya harapan ya?”
“Hmm…. Bukan cuma itu sepertinya…! Dia tidak percaya padaku! Dan mungkin juga aku tidak percaya sepenuhnya padanya!”
“Dia pernah berbohong?”
“Bukan seperti itu tepatnya! Begini, satu hari dia bilang sayang hari berikutnya dia menghilang kemudian dia datang lagi dengan kata sayangnya dan dia hilang lagi…! Aku sampai tidak tau…Diri dia yang mana yang bisa aku percaya?”
“Kamu bisa menanyakan padanya nanti!”
“Sudah tidak perlu lagi!”
Satu kilat kecil menghujam bumi. Mendung di luar memang kian menghilang. Hujanpun sepertinya akan segera berhenti.
“Kamu mau bantu aku sesuatu?” Tanya Alief memecah hening.
“Anything but money…”
“Ini jauh lebih mahal dari sekedar uang…”
“Oh, ada ya? Apa tuh?”
“Penghianatan!”
“Hahahaha…. Alief! Alief! Kau mengatakan itu sepertinya ini sebuah perang!”
“Ini memang perang Dena! Perang batin di hatiku. Perang antara sayang dan benci! Dan aku harus memilih diantara keduanya. Kalau dengan cinta aku tidak mampu mengakhiri semua ini maka kebencianlah yang harus bekerja!”
“Alief! Kamu menakutkan!”
“Dia juga bilang begitu!
“So kamu ingin membuat dia membencimu?”
“…..dengan pura-pura”
“Maksudnya?”
“Begini… jika dia datang nanti…. Maukah kamu jadi pacarku?”
“Oops….. hahahahah….jadi itu ya bentuk penghianatannya…”
“….yang pura-pura…”
“Trus kenapa kamu yakin kalo aku bakal nerima ajakan ‘pacaran’ kamu itu?”
“Karena kamu temanku dan ini untuk kebaikan!”
“Membuat orang jadi membenci itu juga kebaikan?”
“Membuat dia tetap berada pada arah cintanya sendiri….. dan membuat aku berada tetap pada kenyataanya sendiri…!”
“Walaupun dia akan terguncang nantinya?”
“Aku harap dia tidak begitu… kalaupun iya hal itu pasti cepat berlalu…”
“Dan buatmu sendiri?”
“Sedih pasti…. Sakit….mungkin!”
“Dan ini tetap mesti dilakukan ya?”
“Ya…! Maukan?”
Pukul 5 lewat 12 hujan mulai berhenti. Jalan-jalan mulai dipenuhi oleh kendaraan yang terjebak hujan deras tadi. Beberapa pedagang terlihat mulai membuka kembali barang2 jualannya. Seorang gadis berrambut panjang dengan gaun putihnya memasuki café itu. Wajahnya tampak muram. Kakinya makin mendekat masuk diikuti pandangan matanya yang seperti hendak mencari sesuatu. Kemudian dari jarak tertentu matanya terhenti pada satu pasangan yang tengah berpegangan mesra. Agak lama ditatapnya lekat-lekat dua sejoli itu! Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menggangunya. kemudian dengan perasaan yang membuncah gadis itu cepat beranjak meninggalkan café.
“Dia sudah pergi?” Tanya Alief sambil melepas tangan Dena.
“Gadis bergaun putih itu?”
“Iya!”
“Iya…. Dia keliatan menangis…”
Alief terdiam. Ada guratan sedih di wajahnya. Sebuah guratan perlawanan antara sedih dan sayang yang masih bercampur. Sungguh benarkah apa yang dia lakukan ini? Kejamkah itu? Apa kah ada kata2 kejam untuk sebuah kebaikan?
“Oh Tuhan… semoga dosa ku terma’afkan!”
“Kamu tidak berdosa apa-apa Dena. Dosa itu sepenuhnya jadi tanggung jawabku”
“Trus apa yang akan kamu lakukan selajutnya?”
“Entahlah…. Saat ini aku hanya ingin pulang… tertidur dan melenyapkan kenyataan pahit ini…..”
“Oke….”
“Thanks banget ya Dena!”
“Ya…. Be strong…. Percayalah kamu pasti akan menemukan yang terbaik”
“Kamu bukan orang pertama yang mengatakan itu! But Thanks anyway!”
Hujan benar-berhenti sore itu. Dan sepertinya ini hujan terakhir di musim ini. Di cerita ini.


5 Mei 2007……..musim hujan telah berlalu

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Cinta itu suci...kalo alif mau mengakhirinya ga seharusnya cara begini..berkenalan cara baik2 berpisah jg seharusnya dengan cara baik2. jangan mengkhianati rasa cinta dan jangan menodai kesucian cinta:D