Ikut Sayembara
Tepat beberapa jam sebelum masuk tanggal 18 Agustus kemarin, akhirnya saya berhasil ikut serta dalam "Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva-Bukukita.com" yang merupakan ajang lomba cipta karya cerpen yang diselenggarai oleh salah satu penerbit buku di Indonesia. Panitia lomba memang memberikan batas waktu pengiriman naskah sampai tanggal 17 Agustus pukul 24.00 wib. Inysa ALlah karya saya sudah termasuk diantara 1.119 naskah yng nantinya akan diambil 11 terbaik saja yang rencananya akan di bukukan. Saya sendiri baru pertama kali mengikuti sayembara/lomba seperti ini, meskipun keinginan dan niat itu sudah ada sejak lama. Mungkin karena saya selalu merasa kurang yakin akan kemampuan dan kekuatan karya saya sendiri. Akhirnya setelah melihat beberapa karya lama dan membuat satu karya yang baru saya meyakinkan diri untuk mengukuti lomba tersebut. Walaupun saya tidak terlalu berharap karya saya bakal dimuat. Yang penting bagi saya, saya sudah mencoba.
Dalam lomba ini saya mengirimkan tiga naskah ;
1. Anakku Seorang Presiden
Kisah ini bercerita tentang kepanikan seorang ayah yang melihat kelainan pada anaknya yang bercita-cita ingin menjadi presiden. Walapun permasalahnnya sesungguhnya bukan disitu. Cerpen ini saya buat tahun 2003, satu tahun sebelum pemilu 2006. Dibawah ini adalah cuplikan dari cerpen tersebut :
“Kenapa Adi ingin jadi presiden?” tanyaku ketika dia mulai jenuh dengan dongengan saya.
“Abis hebat sih Pah! Presiden kan bisa punya mobil bagus, terbang pake pesawat, punya rumah besar dan kaya….!”
Oh…, untunglah gambaran itu yang ia dapatkan dari sosok seorang presiden.
“…..bisa ngatur-ngatur orang, punya tentara sendiri, bisa buat perang…”
Tidak juga ternyata!!
“….bisa nyerang musuh… dor dor dor!”
Lalu seperti tertarik akan ‘khayalannya’ itu, saya baru berani bertanya, “Emang presiden bisa buat perang ya?”
“Bisa doong! Kan presiden yang paling berkuasa…!”
“Betul.., tapi tugas presiden juga berat karena yang ngasih kekuasan itu kita… rakyatnya. Kalau presidennya nanti ga bias ngatur negara dengan bener, ga bisa ngasih uang dan makanan buat rakyatnya yang miskin, ga bisa sekolahin anak-anak sampai tinggi, ga bisa melindungi rakyatnya yang lemah, nanti malah rakyatnya yang akan marah, karena dia ga bisa ngejalanin amanat mereka. Bukan itu saja Tuhan juga akan marah. Karena Tuhan tidak suka sama orang yang tidak amanah”
“Tuhan akan marah sama presiden?”
“Ya!”
“Apa presiden takut sama Tuhan?”
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena presiden itu cuma manusia dan Tuhanlah yang menciptakan manusia. Tuhan juga yang menciptakan presiden. Tuhan bisa berbuat apa saja pada ciptaannya. Karena Tuhanlah yang paling berkuasa”
Anak itu termenung lama. Entahlah apa cerita saya tadi benar-benar bisa dimengerti olehnya, yang jelas dia seperti menemukan kebenaran baru. Lalu setelah saya bercerita tentang sebuah dongeng, dia kemudian terlelap.
2. Umur Saya Sudah Lewat...
Cerpen ini berkisah tentang seorang lelaki yang masih membawa luka masa kecil karena mengidap phedophilia. Dan ini tidak diambil dari pengalaman pribadi :D. Kisahnya saya buat satu tahun bulan yang lalu.
Berikut cuplikkannya :
“Ibu kira kamu sudah berubah, Mus!” sapa ibu sendu memecah perhatian saya yang tengah asik memandangi anak-anak perempuan yang sedang bermain tali di halaman depan. “Ibu sudah tua, Mus! Dulu Ibu pikir Ibu masih sanggup menjaga kamu sendirian. Tapi kemampuan Ibu terbatas sekarang. Kamu butuh bantuan, Mus!”
Apa maksud ibu.
“Satu hal yang perlu kamu tahu, Ibu masih sayang sama kamu Mus! Apapun keadaan kamu”
Apa sih ini? ibu semakina aneh saja.
“Cuma Ibu juga minta tolong satu hal, tolonglah dirimu sendiri. Lupakan masa lalu!”
Ibu menatap saya hampir menangis. Saya semakin tidak mengerti.
* * * *
Tangan saya ditarik bapak kuat kuat. Ibu menjerit-jerit. Saya menangis keras. Tapi saya masih bisa menangkap tangisan yang menyayat dari seorang gadis kecil yang digendong ibu ke dalam kamar sambil ibu benahi pakaiannya. Kemudian suara tangisan itu menghilang tertimpa teriakan bapak yang mulai memukuli saya.”Kamu apakan adik kamu, hah? Kamu apakan adik kamu?”
Itu cerita waktu umur saya dua belas tahun. Tapi sekarang umur saya sudah lewat tiga puluh tahun…...
……Dan saya menangis.
3. Hantu Marlinah
Ini jenis fiksi yang lebih abdsurd, dan sebenarnya ini jenis cerpen seperti ini yang suka. Hantu Marlinah bercerita tentang pembalan dendam sesosok hantu akibat perbuataan seseorang dimasa hidupnya. Walaupun temanya tentang hantu, namun bukan sesnsai horor yang ingin saya tampilkan. Cerpen ini dibuat beberapa bulan yang lalu dan baru rampung 1 hari menjelang pengiriman. Berikut ini adalah cuplikannya :
“Gin!”, sapa hantu Marlinah setelah habis mengunyah sosis diantara nasi gorengnya. “Mas Kusno masih disini ga?”
“Euh…, mungkin Non tau sendiri!”. Ya ampun!!! Jawaban macam apa itu. Konyol sekali. Entah kenapa bisa keluar kata-kata itu dari mulut Gin, mungkin karena dia berpikir mestinya hantu lebih tau keberadaan orang yang dicarinya. Dia bisa mencari sendiri tanpa hambatan. Ingatlah hantu bisa masuk ke setiap rumah tanpa harus mengetuk pintu.
“Hihihihihihihihihihihihi!” tawa hantu Marlinah kembali menggelagar.”Kamu pikir begitu ya?”
Nah, dia bahkan tahu apa yang dipikirkan Gin.
“Aku akan membunuhnya Gin! Hari ini juga setelah sarapan! Aku cuma ingin memastikan kalau dia ada di sini hari ini. Biar pada saat aku membunuhnya nanti, istri dan keluarganya bisa melihat langsung”

3 komentar:
sukses yah dhan...aku doain...
hmm...hantu marlinah itu yg km kirim ke aku yah? ko cuplikan itu ga ada di ceroen yg km kirim ke aku?:(
yang waktu aku kirim itu belom selesai..... dan baru diselesaikan satu hari menjelang pengiriman....gituuu
thanks ya :)
owh...heheh:D BTW...semoga sukses yah...:D
Posting Komentar