Oleh-Oleh dari Dona II
Di bawah Payung
“Hujan ..cepatlah berhenti”…gumam Troya dalam hati, sambil memegang payung yang menari-nari di sapa angin kencang. Senja itu hujan begitu lebatnya, sesekali melintas di depannya mobil sekaligus memberi percikan air yang membasahi separuh gaun putihnya, yang mungkin sama putihnya dengan rasa rindu yang Troya rasakan.
Hujan semakin deras, tetapi troya tetap saja berdiri disitu. Adakah dia menunggu seseorang yang dicintainya, sebab begitu setia Troya berdiri di bawah cuaca yang tak kenal kata kasihan.
Di depan sebuah etalase meubel antic Troya mematung. Memandangi jatuhnya hujan diatas jalanan yg kian sepi. Garis-garis hujan ini seperti anak2 panah kenyataan yg siap mengujani tubuhnya. Semakin deras hujan ini menghujam bumi semakin nyeri saja rasanya. Oh kenapa aku harus mengalami semua ini….. Kenapa aku harus merasakan cinta lagi…saat dada ini telah terisi oleh cinta dari seseorang yang sangat kusayangi. Apakah aku yang salah? Apakah cinta yang salah?
Satu kilat kecil turun gemuruh.
Mendung sesungguhnya sudah kian lamat menjauh. Tinggal sisa hujan penghabisan di senja ini yang belum menuntaskan ingatannya akan lelaki yang tiba2 hadir di hatinya. Mestinya musim hujan ini sudah berakhir…. Harus berakhir! Rintik tentangnya harus sudah berhenti di sore ini. Ya sore ini. Dia tidak bisa berlama-lama lagi dengan cinta musimannya itu…. Hujan tidak akan bertahan di panasnya kemarau. Begitu juga dengan lelaki itu, dengan cinta itu. Dia tidak akan mampu bertahan disaat nanti Troya akan pergi menghindarinya. Meninggalkan musim ini. Dan Troya yakin hujan ini pasti berhenti! Cinta ini pasti berakhir!
“Tapi apakah aku mampu?” akhhhh… suara siapa ini? Yang jelas tidak ada orang lain disana kecuali dirinya. Apakah itu suara hatinya? Troya sendiri tidak yakin. Satu hal yang ingin dia yakini bahwa apa yang dia rasakan ini salah. Dan dia bertanggung jawab akan hal itu. Makanya dia berharap hujan ini cepat berhenti agar segera usai juga kesalahan yg dia buat…. jika memang itu benar-benar sebuah kesalahan. Karena sore ini Troya akan menemuianya di sebuah tempat. Dia sudah membuat janji dengannya, dan karena hujan tadi dia terpaksa datang terlambat. Ah, semoga saja dia masih menunggu di sana…. Apa yang mesti kukatakan…”Alif… kamu tau hubungan kita ini ga bakal berakhir seperti yang kita inginkan. Kamu tau kondisi aku. Aku tau kondisi kamu. Dan kita sama2 telah dewasa. Kita harus bisa menghadapi ini tanpa harus terlalu terluka, tanpa dendam dan membenci…karena sungguh…. Aku ga bisa memungkiri kalo rasa sayang itu masih ada… Tapi tetap hubungan kita ini mesti berakhir…”
Satu testes air mata jatuh di pipinya. Meski semua itu belum terjadi gemuruh pertentangan di batinnya makin kuat saja.
* * *
Pukul 5 lewat 12 menit hujan semakin reda saja. Jalan-jalan mulai banyak terisi oleh kendaraan yang memantulkan cahaya2 dari lampunya. Beberapa pedagang tampak keluar dari tempat berteduhnya tadi. Hm, inilah saatnya! Lalu dengan perasaan yg dia tegarkan dia langkahkan kakinya menyusuri trotoar menuju tempat pertemuannya nanti. Debar jantungnya makin mengguncang dasyat saat kakinya makin mendekat. Mampukah dia? Mampukah dia menatap matanya nanti saat dia mengatakan itu semua. Dan terutama matanya….. entahlah dari mata itu Troya seperti menemukan dunia tersendiri yang berhasil mengisi setitik lubang di hatinya. Dan sore ini troya akan menghacurkan dunia itu. Dan mungkin juga merusakkan sebagian hatinya.
Di depan pintu masuk café SariRasa langkahnya terhenti. Ditariknya dalam2 nafasnya. Dikumpulkan lagi kekuatannya yg dia coba bangun sejak tadi. Aku bisa! Aku yakin bisa! Tekadnya dalam hati. Kemudian langkah demi langkah dia ayunkan memasuki café itu. Pandangannya menyapu setiap sudutnya berharap menemukan sosok yang dicarinya. Lalu dari sebuah jarak, matanya terhenti di tubuh seorang lelaki berkaos hitam yang tengah duduk disatu kursi. Troya berdiri terpaku disana. Perasaannya berkecamuk. Kacau dan menyesak. Troya hampir tidak percaya pada pandangan matanya sendiri… Ini bukan situasi yg dia bayangkan sebelumnya. Ini bukan sebuah kenyataan yg sanggup dia antisipasi untuk terjadi. Ini sangat menyakitkan! Dan setengah menangis.. cepat saja dia kembali keluar dari café itu…. Meninggalkan niatan hatinya…. Meninggalkan lelaki yang dicarinya… lelaki yang tengah berduaan mesra dengan seorang gadis…. ……………………………
* * *
Hujan di hati Troya sudah berakhir….. Musim cintanya sudah berlalu… lelaki itu telah membuatnya lebih mudah untuk membeci dan melupakannya….
Hujan telah benar-benar berhenti kali ini…

1 komentar:
pasti hatinya treya sangat perih...sakit..ga keruan. tapi yah mgkin udah waktunya dia mengakhirinya. bukan karena ga ada rasa sayang dan cinta di hati dia tapi karena ternyata sukar utk pura2 menjadi tabah :D
Posting Komentar